Friday, December 23, 2011

PULAU UNIK BAHASA UNIK

NAIJABÊÉ - PAHMETO’ - PAHBIBENA’
Oleh Prisco Virgo

Sudah ribuan tahun, sepenggal tanah kering yang terletak di kepulaun Nusa Tenggara Timur dan didiami oleh penduduk asli suku bangsa Atônê di bagian Barat dan suku bangsa Tetun, Kemak, Bunaq, Mambae, Toko Dede, Makasa’e, Naóti, Fataluku, dan lain-lain di bagian Timur, oleh orang Eropa disebut pulau ‘TIMOR’.  Nama asing ‘Timor’ ini sendiri adalah cara tulis orang Portugis untuk kata Melayu: ‘TIMUR’. Sementara dalam mitos (cerita suci) pribumi suku Atônê dan suku Tetun, tanah yang mereka huni ini, sejak dulu kala disebut: Tanah Buaya atau Rai Lafaek (bahasa Tetun) dan Naijabêé (bahasa Laban). Karena menurut mitos itu, tanah kering yang disebut pulau ‘Timor’ ini adalah jelmaan seekor buaya. Sehingga dalam padangan tradisional masyarakat penghuni pulau ini, buaya mendapat penghargaan dan penghormatan sebagai leluhur. Bahkan pada jaman dahulu, setiap suku di pulau ini memelihara buaya dan buaya yang dihormati ini, diberi makan melalui seremoni-seremoni adat tertentu pada saat-saat tertentu pula. Bila anda mengunjungi kampung-kampung di pedalam tanah kering ini, anda akan dibawa oleh penduduk setempat ke mata air atau kolam tertentu, di mana para leluhur mereka pernah melalukan “ritus buaya”. Sampai hari ini, dalam kosa kata, baik bahasa Tetun Terik mau pun bahasa Laban, masih tertinggal satu kata yang menunjuk kepada buaya sebagai leluhur, yakni kata: [ bêé ], yang berarti: Leluhur (nenek atau kakek). Khusus untuk penduduk Timor-Leste, kata bêé sering diganti dengan kata, abó (dari bahasa Portugis avó, leluhur). Mitos buaya mengubah dirinya menjadi tanah kering, yang kemudian disebut sebagai pulau ‘Timor’ oleh orang Eropa itu, secara lengkap adalah sebagai berikut:
Pada suatu hari seorang anak manusia menemukan seekor anak buaya yang sedang berusaha untuk keluar dari sebuah kolam air tawar di sebuah rawa-rawa. Anak buaya itu telah berjuang sekuat tenaga, tetapi selalu terperosok dan jatuh lagi ke dalam kolam air tawar itu. Anak manusia itu pun bertanya: “Mau ke manakah engkau hai anak buaya? Tidak senangkah engkau tinggal di dalam kolam ini?” Anak buaya itu menjawab: “Air di kolam ini sudah terlalu panas. Saya tidak tahan lagi tinggal di sini. Saya ingin pergi mencari laut, yang katanya lebih luas dan lebih segar airnya.” Anak manusia itu iba melihat anak buaya yang kepanasan itu, lalu menggendongnya dan membawanya ke laut. Anak buaya itu sangat bersyukur atas kebaikan anak manusia itu, lalu berkata: “Bila suatu hari nanti dan engkau ingin bepergian melalui laut, datanglah ke sini dan panggil saja nama saya. Segera saya akan muncul dan membawamu pergi ke mana saja engkau kehendaki.”
Hari, bulan dan tahun pun berlalu. Anak manusia itu mengingat lagi pesan anak buaya itu. Maka datanglah anak manusia itu ke tepi pantai dan berteriak memanggil nama anak buaya itu sebanyak tiga kali. Anak buaya yang telah menjadi buaya dewasa itu pun muncul dan sangat bergembira bertemu lagi dengan teman lamanya yang kini telah menjadi seorang pemuda dewasa yang tampan. Buaya itu menyuruh pemuda itu naik atas punggungnya dan berkelanalah mereka berdua,  mengunjungi banyak tempat yang jauh dan indah, yang belum pernah dikunjungi sang pemuda. Tetapi yang namanya buaya, akan tetap menjadi reptil pemangsa.
Pada suatu hari, timbullah keinginan di dalam hati buaya untuk memakan sang pemuda. Namun sebelum menjadikan pemuda itu sebagai santapan, buaya itu meminta nasehat terlebih dahulu pada binatang-binatang lain. Buaya pun memutuskan untuk menemui ikan paus, singa, kerbau dan beberapa binatang lain, lalu mengutarakan niatnya itu. Tetapi ia selalu mendapat jawaban:
“Manusia itu telah berbaik hati dan menolongmu ketika engkau masih kecil. Engkau tidak bisa membalas budi baiknya dengan tindakan sekejam itu.” Akhirnya, buaya menemui si kera sakti dan ingin mendengarkan nasehat lain yang mungkin lebih bijaksana. Setelah mendengarkan kata-kata buaya itu, si kera sakti mengutuk sang buaya dan mencabik-cabik dirinya sendiri sampai mati. Buaya sangat malu mendengarkan kata-kata kera sakti dan terlebih menyaksikan tindakan nekad kera sakti, membunuh dirinya sendiri hanya karena mendengarkan niat buruk sang buaya.
Buaya lalu membatalkan niatnya untuk memakan pemuda itu. Sebaliknya buaya mengajak sang pemuda untuk tetap berkelana mengarungi banyak samudra dan lautan sampai buaya itu sendiri menjadi sangat tua dan tidak bisa lagi berenang. Buaya itu menjadi sangat sedih karena ia tahu, seumur hidupnya ia tidak bisa membalas kebaikan sang pemuda. Maka berkatalah buaya itu kepada sahabatnya:
“Saya sudah sangat tua dan tidak lama lagi saya akan mati. Maka sebagai balas budi atas kebaikanmu, saya akan mengubah diri saya menjadi tanah kering dan engkau bersama anak cucumu boleh tinggal dan menetap di atas tanah kering itu. Berhentilah menjadi pengembara di lautan yang luas ini.”
Dan terjadilah. Sampai hari ini, tanah kering itu tetap berbentuk seperti buaya dan disebut oleh anak-anak keturunan pemuda itu sebagai Tanah Buaya atau Rai Lafaek dalam bahasa Tetun Terik dan Naijabêé dalam bahasa Laban. Anak-cucu keturunan sang pemuda yang mendiami Tanah Buaya ini, kemudian hari mewarisi sifat-sifat: Baik hati, setia kawan dan mengutamakan rasa keadilan dalam berteman, seperti pernah ditunjukkan leluhur purba mereka, yakni sang pemuda dan sahabat karibnya sang buaya.
Dari ceritera mitos inilah, kita bisa mengerti, mengapa orang ‘Timor’ menyebut buaya sebagai bêé atau abó dan mengapa sejak dahulu kala, buaya menjadi reptil yang sangat dihargai dan dihormati di seluruh kawasan pulau ini. Ketika melakukan perjalanan dan hendak menyeberangi muara sungai tempat tinggal para buaya, orang-orang Timor-Leste selalu berteriak: “Abo, ami ita boot nia bei oan sira. La bele han ami!” (Nenek, kami ini anak-cucumu. Tidak boleh makan kami). Sedangkan orang-orang Laban di wilayah Barat pulau, akan berteriak: “Ija hai, hit sufa’kaú. Hem lakam fin on panin nae!” (Ini kami, anak cucumu. Mau ke seberang sana). Ketika para Etnolog dan Antropolog Barat melakukan penelitian dan mulai menulis tentang pulau kering ini di abad ke-18 dan 19, nama-nama tradisional seperti Rai Lafaek dan Naijabêé tidak dimasukkan ke dalam tulisan-tulisan hasil penelitian mereka. Mereka lebih memilih menggunakan nama ‘Timor’, yang sudah lebih dahulu dipopulerkan oleh para penjelajah samudra dan para pedagang asal Spanyol dan Portugis, yang telah datang lebih dahulu ke pulau ini di abad ke 14 dan 15, untuk mencari kayu cendana, madu hutan dan lilin.  
Untuk para penduduk asli pulau ‘Timor’ bagian Barat yang disebut bangsa Atônê (manusia, orang), selain nama mitologis Naijabêé (tanah buaya) di atas, wilayah tempat tinggal mereka ini sering juga mereka sebut: Pahmeto’. Artinya, tanah kering, sesuai mitos buaya. Karena itu mereka menyebut diri mereka: Atôênmeto’ (orang-orang dari tanah kering) dan bahasa mereka: Uâbmeto’ (bahasa orang-orang dari tanah kering). Pater Petrus Salu, SVD, salah seorang putra Timor yang mengamati bahwa ritus-ritus tradisional masyarakat ‘Timor’ selalu dilakukan di atas mesbah ceper yang terbuat dari batu megalit, malah pernah menganjurkan nama: Pahbibena’ (Tanah Si Ceper). Tetapi saya lebih melihat nama yang dianjurkan Pater Salu ini sebagai sebutan puitis untuk Pahmeto’.
Sesuai mitologi dalam tradisi lisan yang masih dihargai sampai hari ini, maha raja yang berkuasa di Tanah Buaya ini, dalam bahasa adat Tetun disebut: Maromak Oa alias Putra Tuhan atau dalam bahasa Laban disebut: Neno Anan alias Putra Langit. Sang Putra Langit ini tidak pernah keluar dari istana. Karena itu, dalam bahasa Tetun disebut Liu Rai Tur (Yang Duduk) dan dalam bahasa Laban disebut Atupas (Yang Tidur). Dalam tutur lisan, wilayah kekuasaan Maromak Oan disebut: We Hali (Air Beringin) dan We Wiku (Air Bergelora). Air adalah simbol Kesejukan, Beringin adalah simbol Pelindung atau Pengayom dan Bergelora adalah simbol Penaklukan atau Kekuasaan. Julukan untuk para raja bersar-kecil, pelaksana kekuasaan Maromak Oan di seluruh wilayah We Hali We Wiku disebut Liu Rai Ukun (Yang Memerintah). Sedangkan di wilayah Pahmeto’, para penguasa itu disebut: Usif (Raja) atau Moenlêó (Putra Keramat).
Leluhur purba, alias cikal bakal penguasa bangsa Atônê, yang kemudian hari mendapat julukan Sonbaí di wilayah Timor Barat, adalah Naí Laban (Kakek Laban) atau Usi’ Laban (Tua Laban). Dia merantau ke wilayah Barat, setelah mendapat restu dari saudaranya Liu Rai. Dalam pengembaraannya itu, Usi’ Laban membawa serta para pendampingnya yang disebut Amaf (bapak bangsa): Bôkê’ Taek (kemudian hari menjadi nama wilayah Biboki), Sanan Taek (kemudian hari menjadi nama wilayah Insana), Bênô’ Taek (kemudian hari menjadi nama wilayah Ambênô’), Kômê Taek (kemudian hari menjadi nama wilayah Bikomi), Mafo’ Taek (kemudian hari menjadi nama wilayah Miomafo), Nube Taek (kemudian hari menjadi nama wilayah Amnuban), Natu Taek (kemudian hari menjadi nama wilayah Amnatun), Elo Taek (kemudian hari menjadi nama wilayah Molo), dan Rasi Taek (kemudian hari menjadi nama wilayah Amrasi). Sedangkan istananya sendiri, ketika dia telah mendapat julukan Sonbaí, dibangun di sebuah tempat bernama: Let aijam bijel.
Untuk waktu yang lama sekali, sebutan Laban tidak dipopulerkan, sehingga kata ini tergeser oleh variasi ucapannya yang lebih terkenal: Dawan. Kata Dawan ini kemudian hari dibakukan oleh para Misionaris Barat, peneliti Etnologi dan Linguistik, dan dipakai bergantian untuk menyebut, entah bangsa maupun bahasa yang digunakan oleh penduduk yang mendiami bagian Barat pulau ini. Maka bangsa Atônê, sampai hari ini lasim juga disebut, orang Dawan dan bahasa mereka, bahasa Dawan. Bila orang-orang Tetun di wilayah Belu Selatan ditanya: “Siapa orang-orang di wilayah Barat itu?” Maka mereka akan menjawab: “Ema Dawan sia.” (Mereka anak-anak keturunan Laban). Sedangkan anak-anak keturunan Naí Laban, selalu menyebut orang-orang Tetun dengan sebutan: “Ahôêntina”. Artinya: Leluhur yang melahirkan.
Kata Meto’, secara hurufiah berarti kering. Tetapi sering kata meto’ ini dikonotasikan juga sebagai asli, pribumi, terkebelakang, tidak terpelajar, pemakai sarung (bêtê’-tais), pengunyah sirih-pinang, kotor, tidak bersendal, tinggal di kampung-kampung tradisional Timor dan setiap hari berkomunikasi dalam bahasa ibu mereka, Uâblaban atau bahasa Dawan. Kata meto’ lalu dipententangkan dengan kata, kase, yang berarti, asing, berkonotasikan pendatang, terpelajar, maju, moderen, pemakai kameja dan bruk panjang, isap rokok, bersih, bersepatu, tinggal di kota dan berbicara Uâblabit (bahasa asing) seperti bahasa Melayu, Belanda, Portugis, Inggris dan bahasa-bahasa asing lainnya. Pandangan inilah yang menyebabkan banyak anak pribumi bangsa Atônê di pulau Timor, apa lagi mereka yang sudah sanggup mempelajari dan menggunakan bahasa orang-orang kase, hidup a la orang kase di kota-kota, merasa minder untuk menggunkan bahasa ibunya sendiri. Selain karena tidak mau dianggap “tidak terpelajar”, juga karena trauma sejarah. Pernah terjadi dalam suatu kurun waktu di masa lampau, guru-guru memberikan hukuman berat kepada para murid yang ketahuan menggunakan Uâblaban alias Uâbmeto’ atau bahasa Dawan pada jam-jam sekolah. Ketika IPTEK dan IT berhasil mengubah bumi ini menjadi seolah sebuah desa (global village), di mana setiap bangsa di dunia ini tidak lagi menjadi terasing sendiri dari segala kemajuan jaman moderen ini, banyak orang mulai sadar akan pentingnya mengenal dan mencintai budaya dan bahasanya sendiri. Bila tidak, bangsanya akan punah. Bahasa sebagai salah satu aspek pengungkap paling kongkrit dari kebudayaan, tiba-tiba menjadi sangat penting. Mengapa? Barang siapa kehilangan bahasa ibunya, ia telah kehilangan sebagian besar budaya dan jati dirinya sendiri sebagai manusia.
Menurut penelitian Geoffrey Hull, seorang ahli bahasa dari Australia, penulis buku Mai Kolia Tetun (Robert Burton Pty Ltd. 2003), ada sekitar 32 bahasa dan dialek yang masih aktif digunakan oleh penduduk pulau Buaya ini. Semua bahasa dan dialek itu terbagi ke dalam dua kelompok besar. Pertama, kelompok Austronesia (bahasa-bahasa Barat): Tetun (dialek: Dili, Terik, Belu), Habun, Galolen (Galoli), Atauran (Wetarese: dialek Dadua, Nanaek, Raklungu, Rahesuk, Resuk), Kawaimina (dialek: Kairui, Waimaha, Midiki, Naueti), Bekais (Welaun), Idaka (dialek: Idate, Isni, Lolein, Lakalei), Manbae (Mambai), Kemak, Tokodede, Makuva dan Dawan (Laban atau Baikeno’). Kedua, kelompok Papua (bahasa-bahasa Timur): Gai’ (Bunak), Fatalukunu (Fataluku), Makalero dan Makasae (Makasai). Dari sekian bahasa dan dialek ini, hanya ada dua bahasa, yakini: Tetun dan Dawan yang dipakai di pulau ‘Timor’ bagian Barat, termasuk Enklave Oekusi (Timor-Leste). Sedangkan sisanya ada di wilayah Timur pulau, yang kini menjadi negara baru Timor-Leste.
 Bahasa bangsa Atônê di Pahmeto’, selain disebut bahasa Dawan  atau Baikênô’ di Enklave Oekusi, sering disebut juga, Uâblaban. Bentuk kata Uâblaban adalah kata jadian yang terdiri dari dua kata dasar, yakni kata Uâbat (bahasa) dan Laban (nama leluhur purba) seperti sudah disebutkan di atas. Karena hukum metatesis (perubahan bentuk kata karena pergeseran bunyi) yang terdapat dalam bahasa ini, maka ketika dua kata dasar bergabung untuk membentuk sebuah kata baru, kata yang diterangkan atau yang teletak di depan kata yang menerangkan, akan mengalami proses metatesis. Dengan demikian, ketika kata Uâbat bergabung dengan kata Laban, maka kata Uâbat berubah bentuk menjadi “Uâb”, dan setelah digabungkan dengan kata Laban, terbentuklah kata jadian: Uâblaban. Bila ada pembicara yang masih sering menggunakan kata, Uâbat Laban, maka penutur asli akan langsung tahu bahwa pembicara itu sementara dalam proses mempelajari bahasa unik dari pulau yang unik ini pula. ***

Kuluhun, Dili, Timor-Leste,
12 Desember 2011

SATU BAHASA BANYAK NAMA

 
UÂBDAWAN - UÂBLABAN - UÂBMETO’ - BAIKÊNÔ’
Oleh Prisco Virgo

Kata “Dawan” sebenarnya tidak ada dalam kosa kata bahasa orang Dawan, karena huruf [ d ]  tidak pernah berdiri di awal kata atau menjadi huruf pertama sebuah kata, pada lafal atau ucapan asli Atôêlaban pengguna bahasa ini. Apa lagi huruf [ w ], tidak pernah dikenal dalam lafal bahasa ini. Maka diduga keras bahwa kata Dawan adalah sebutan orang luar untuk kata Laban (nama penguasa wilayah Timor Barat yang datang dari Timur dan kemudian hari mendapat julukan Sonbaí ). Secara pribadi, saya berpendapat bahwa kata Dawan adalah ucapan orang berbahasa Tetun (Belu) untuk kata Laban. Saya menemukan beberapa kata dasar dari kedua bahasa ini, yang merupakan pertukaran bunyi antara huruf [ d ] pada bahasa Tetun Belu (TB) dan huruf  [ l ] pada  Uâblaban (UL). Perhatikan daftar di bawah ini:

Konsonan awal:         
d-alan TB, l-alan UL (jalan)
d-erok TB, l-elo’ UL (jeruk)

Konsonan tengah:      
u-d-an TB, u-l-an UL (hujan)
k-d-ok TB, -l-o UL (jauh)

Sedangkan huruf [ w ] mudah saja disesuaikan karena merupakan konsonan bilabial seperti huruf [ b ] pada kata: Laban. Dengan demikian, apa yang kita kenal selama ini sebagai Uâbdawan, tidak lain adalah Uâblaban, yang kalau diindonesiakan akan menjadi: Bahasa Dawan atau Bahasa Laban.

Kata “Dawan” ini pertama kali dipakai oleh para pejabat pemerintahan Belanda ketika mereka harus menuliskan laporan-laporan tentang keadaan wilayah jajahannya di pulau Timor pada awal abad ke-19. Nama “Dawan” ini kemudian tersebar ke Eropa dan ketika para peneliti bahasa untuk kebutuhan pewartaan, baik Katolik mau pun Protestan di pulau Timor, nama “Dawan” ini pulalah yang dipopulerkan dan digunakan sampai hari ini. Maka kita tidak heran bahwa nama Laban tetap menjadi suatu nama yang asing bagi anak-anak Dawan sendiri. Pada hal, justru karena kata Laban inilah, maka salah satu dialek bahasa ini sering disebut Dawan “L”, untuk membedakannya dari dialek Rôés yang disebut: Dawan “R”.

Di samping kedua dialek “L” dan “R” ini, Uâblaban masih memiliki dialek lain lagi, yang digunakan bercampur oleh kedua dialek terdahulu, yakni Dawan “J” dan Dawan “Y”. Satu kelompok kata yang bisa disebutkan di sini untuk memperkuat pendapat ini adalah korenspondensi bunyi antara huruf-huruf  J - L - R - Y dalam kata-kata seperti berikut ini:

aijao - ailao - airao - aiyao (cemara)     
bijae - bilae - birae - biyae (sapi)          
kijabas - kilabas - kirabas - kiyabas (jambu)   
naijan - nailan - nairan - naiyan (tanah, bumi)

Bentuk kata Uâblaban adalah kata jadian (invented word) yang terdiri dari dua kata dasar, yakni kata Uâbat (bahasa) dan Laban (nama penguasa purba suku Atônê ). Karena hukum metatesis (perubahan bentuk kata yang disebabkan oleh hukum pergesaran bunyi), maka ketika dua kata dasar bergabung untuk membentuk sebuah kata baru, kata yang diterangkan akan mengalami proses metatesis: Uâbat  menjadi “Uâb”.  Dan setelah digabungkan dengan kata Laban, maka terbentuklah kata jadian: Uâblaban, yang tidak lain adalah Uâbdawan atau bahasa Dawan.  

Bentuk kata Uâbdawan atau pun Uâblaban, sebenarnya adalah bentuk kata jadian (invented word) yang berusia lebih muda dibanding bentuk Uâbmeto’ yang sudah lebih lama dikenal oleh masyarakat Atônê di pulau Timor. Sebutan Uâbmeto’ yang terakhir ini, berasal dari ungkapan Pahmeto’,  yang berarti tanah kering. Sebuah nama yang lebih purba (archaic), pemberian penduduk asli pulau bagian Barat untuk tanah tumpah darah mereka, nusa Timor alias pulau Buaya. Karena wilayah tempat tinggal, mereka disebut Pahmeto’, maka diri mereka sendiri, mereka namakan: Atôênmeto’. Dan bahasa mereka: Uâbmeto’. Banyak teman pengamat Uâblaban, lebih cenderung untuk menggunakan kata Uâbmeto’ untuk menyebut bahasa ibu mereka yang satu ini. Dan pilihan mereka cukup berasalan karena Uâbmeto’ juga memiliki tujuh padanan kata searti, yang semuanya lebih terasa orisonal karena diterangkan oleh kata sifat meto’:

A’meto’ (aát + meto’)
Êôtmeto’ (êtôs + meto’)
Hanmeto’ (hanaf + meto’)
Laibmeto’ (labit + meto’)
Laismeto’ (lasit + meto’)
Molok Meto’ (molok + meto’)
Takanab Meto’ (takanab + meto’)

Sementara penduduk pribumi Enklave Oekusi di negara baru Timor-Leste, yang juga sehari-hari menggunakan Uâbmeto’, lebih cenderung menyebut bahasa ibu mereka ini dengan nama: Baikênô’(dari kata Vaikeno). Sebuah nama pemberian orang Portugis yang sebenarnya juga diambil dari perbendaharaan kata Uâbmeto’, dialek Kaesmetan di Padiae, Oekusi.

 Kuluhun, Dili, Timor-Leste,
13 Desember 2011

Monday, September 26, 2011

METO' - KASE Oleh Prisco Virgo

Selain nama mitologis Naijabêé (tanah buaya), pulau Timor yang dihuni oleh bangsa Atônê (manusia, orang), sering dikenal juga dengan sebutan Pahmeto’. Artinya, daratan kering, wilayah tandus. Leluhur purba yang disebut dalam mitos (cerita suci) sebagai cikal bakal bangsa Atônê adalah Naí Laban (Kakek Laban). Untuk waktu yang lama sekali, sebutan Laban tidak dipopulerkan, sehingga kata ini tergeser oleh variasi ucapannya yang lebih terkenal: Dawan. Kata Dawan ini kemudian dibakukan oleh para Misionaris Barat, peneliti Etnologi dan Linguistik, dan gunakan bergantian untuk menyebut, entah bangsa maupun bahasa yang digunakan oleh penduduk yang mendiami Pahmeto’. Maka bangsa Atônê, sampai hari ini lasim juga disebut, orang Dawan dan bahasa mereka, bahasa Dawan. Sementara itu, kata meto’, secara hurufiah berarti kering, tandus. Tetapi sering kata meto’ ini dikonotasikan sebagai asli, pribumi, terkebelakang, tidak terpelajar, pemakai sarung (bêtê’-tais), pengunyah sirih-pinang, kotor, tidak bersendal, tinggal di kampung-kampung tradisional Timor dan setiap hari berkomunikasi dalam bahasa ibu mereka, Uâblaban atau bahasa Dawan. Kata meto’ lalu dipententangkan dengan kata, kase, yang berarti, asing, berkonotasikan pendatang, terpelajar, maju, moderen, pemakai kameja dan bruk panjang, isap rokok, bersih, bersepatu, tinggal di kota dan berbicara Uâblabit (bahasa asing) seperti bahasa Melayu, Belanda, Inggris dan bahasa-bahasa asing lainnya. Pandangan inilah yang menyebabkan banyak anak pribumi bangsa Atônê di pulau Timor, apa lagi mereka yang sudah sanggup mempelajari dan menggunakan bahasa orang-orang kase, hidup a la orang kase di kota-kota, merasa minder untuk menggunkan bahasa ibunya sendiri. Selain karena tidak mau dianggap “tidak terpelajar”, juga karena trauma sejarah. Pernah terjadi dalam suatu kurun waktu di masa lampau, guru-guru memberikan hukuman berat kepada para murid yang ketahuan menggunakan Uâblaban pada jam-jam sekolah. Ketika IPTEK dan IT berhasil mengubah Etnologi (ilmu tentang bangsa-bangsa terkebelakang) menjadi Antropologi (ilmu tentang bangsa dan budaya manusia), di mana setiap bangsa di dunia tidak lagi menjadi terasing sendiri dari segala kemajuan jaman moderen, banyak orang mulai sadar akan pentingnya mengenal dan mencintai budaya dan bahasanya sendiri. Bila tidak, bangsanya akan punah. Bahasa sebagai salah satu aspek pengungkap paling kongkrit dari kebudayaan, tiba-tiba menjadi sangat penting. Mengapa? Barang siapa kehilangan bahasa ibunya, ia telah kehilangan sebagian besar budaya dan jati dirinya sendiri sebagai manusia.*** (Prisco Virgo. Kuluhun, Dili, Timor-Leste. 26 September 2011) 


KELOMPOK 33 Oleh Prisco Virgo

KATA-KATA ISTIMEWA

Sekelompok kecil kata Uablaban yang berkonsonan awal ganda: [ mn ] dan diikuti satu atau dua vokal. Keistimewaannya adalah ketika kata-kata ini menduduki fungsinya sebagai kata kerja, bentuk dasar kata-kata ini, luluh mengikuti subyek pelaku. Jumlahnya hanya 33 kata. Perubahan kata kerja atau bentuk konjugasi kata-kata ini perlu dihafal, karena tiap kata memiliki pola perubahannya yang khas dan istimewa. Salah satu contoh kunjugasi dari kelompok 33 ini, adalah seperti perubahan kata mnahat (makanan) di bawah ini:

TUNGGAL(Singular)                                   
au ua (saya makan)                
ho mua (engkau makan)        
hit tah (anda makan)              
in nah (dia makan)                 

JAMAK(Plural)
hai mia (kami makan)
hit tah (kita makan)
hi mia (kamu makan)
sin nahan (mereka makan)

Daftar lengkap kelompok 33:
mnaekat [kb] (aek, maek, naek, taek, naekan) - perendaman
mnaenat [kb] (aen, maen, naen, taen, naenan) - pelarian
mnahat [kb] (ua, mua, nah, mia, tah, nahan) - makanan, santapan
mnaesat [kb] (aes, maes, naes, taes, naesan) - pemerasan
mnâifat [kb] (âif, mâif, nâif, tâif, nâifan) - pemangkuan
mnâikat [kk] (âik, mâik, nâik, tâik, nâikan) - lain, beda
mnâilat [kb] (âil, mâil, nâil, tâil, nâilan) - penglihatan, penjagaan
mnâinit [kb] (âin, mâin, nâin, tâin, nâinin) - pemungutan, pengangkatan
mnâitis [kb] (âit, mâit, nâit, tâit, nâitan) - pengambilan
mnakat [kb] (ak, mak, nak, tak, nakan) - perkaataan, penyampaian
mnamit [kb] (aim, maim, naim, taim, nanim) - pencarian
mnanat [kk] (an, man, nan, tan, nanan) - bisa, sanggup, dapat
mnanit [kb] (ain, main, nain, tain, nanin) - penyisihan
mnâubat [kb] (âub, mâub, nâub, tâub, nâuban) - pengerumunan
mnausan [kk] (âusan, mâusan, nâusan, tâusan) - seperti, ikut
mnâusat [kb] (âus, mâus, nâus, tâus, nâusan) - kebasan
mnâunut [kb] (âun, mâun, nâun, tâun, nâunun) - anggukan, gulungan
mnâutus [kb] (âut, mâut, nâut, tâut, nâutun) - tandukan, tubrukan
mnêkêt [kk] (êk, mêk, nêk, têk, nêken) - dengan, jadi, menang
mnêkôt [kb] (êôk, mêôk, nêôk, têôk, nêkôn) - makanan ringat
mnemat [kk] (ôm, nem, êm, tem, neman) - ke (sini)
mnêôt [kk] (êô, mêô, nêô, têô, nêôn) - ke (sana)
mnênôt [kb] (êôn, mêôn, nêôn, têôn, nênôn) - perkiraan
mnêsêt [kk] (ês, mês, nês, tês, nêsên) - berpihak
mnêtês(êt, mu, nêt, mi,  tu, nêtên) - ke (sana)
mninut [kb] (iun, miun, nium, tium, ninun) - minuman
mnisat [kk] (is, mis, nis, tis, nisan) - memang, sampai
mnitas [kk] (it, mit, nit, tit, nitan) - sesaat, coba
mnoèn [kb] (oèn, moèn, noèn, toèn, noe’nin) - panggilan, undangan
mnokat [kk] (ok, mok, nok, tok, nokan) - dengan, turut, ikut
mnokot [kk] (oko, moko, noko, toko, nokon) - dari, asal
mnôtôs kb] (ôt, môt, nôt, tôt, nôtôn) - pembakaran
mnut [kk] (u, mu, nu, mi, tu, nun) - ke (sana)

Catatan:
Bila teman-teman dari dialek lain, menemukan kata-kata lain yang belum saya catat di sini, mohon ditambahkan ke dalam daftar ini. Neksêônbanit. Terima kasih.

 

Wednesday, August 17, 2011

SEBUAH KEPEDULIAN

UABLABAN
Oleh Dion Bata
Wartawan Senior Pos Kupang

"Oslan teabenat kiunnan baefnen
On nanat kaisam tokom, em hat nao ha taim kiu bafe'
Kiubaef'a nok unsam masi'at minna kah, masit islaut fin
Me han nes nanit, le' mitman kiubaefina sina `loemkina"
APA makna kalimat di atas?  Mohon maaf, beta pun tidak tahu. Soalnya bukan bahasa ibuku. Itu bahasa ibu Prisco Virgo, penutur asli bahasa daerah Timor yang baru saja meluncurkan buku berjudul UBI. Singkatan dari Uablaban Bahasa Ibuku. Edisi terbatas buku ini terbit bulan Agustus 2010.

Coba tuan dan puan simak sekali lagi empat kalimat di atas. Lihat kata yang dicetak tebal. Pada kalimat baris pertama ada kata kiunnan dan baefnen. Pada kalimat baris kedua, dua kata itu berubah jadi kiu bafe'. Pada kalimat baris ketiga, dua kata itu malah bersatu menjadi kiubaef'a. Dan, pada kalimat baris keempat, dua kata yang sama berubah lagi menjadi kiubaefina.

Tentu hanya seorang penutur asli (native speaker) bahasa ini yang dapat menikmati perbedaan nuansa serta nilai rasa bahasa dari perubahan keempat kata di atas serta arti yang  dikandung keempat bentuk perubahan itu. Tuan dan puan serta beta yang bukan penutur asli tidak merasakan perbedaan serta nilai rasa bahasa itu. Kecuali kalau mau serius belajar Uablaban, bahasa yang dipakai masyarakat bangsa Atônê (Atoni), bangsa yang berdiam di Pulau Timor bagian barat (NTT).                               

Empat kalimat di atas agaknya sengaja ditunjukkan Prisco Virgo dalam pengantar buku UBI demi memberi tahu sidang pembaca betapa bahasa ibunya itu kaya, unik sekaligus indah.  Keunikan itu antara lain tampak dari perubahan bentuk kata (morfemisasi). Selama ini kita mengenal  Kefamenanu, ibukota Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU). Menurut Prisco Virgo, tulisan yang benar sesuai nilai rasa bahasa Uablaban seharusnya Kefamnanu'. Melalui buku UBI, penulis bernama asli Fransiskus Xaverius Primus Uluk Djuki Ta'neo tegas memperlihatkan kecintaan dan keingintahuan yang besar akan bahasanya sendiri. 

Beta salut atas usaha misionaris SVD yang berkarya di Timor Leste tersebut. UBI adalah hasil kerja keras pria kelahiran Bansone',  Kefamnanu'  itu selama 20 tahun. Dia mengamati dan mengumpul kekayaan Uablaban sejak masih tercatat sebagai mahasiswa STFK St. Paulus Ledalero, Maumere-Flores tahun 1980-an. Luar biasa! 

Prisco Virgo tidak berlatar belakang studi linguistik. Ilmu dasarnya filsafat dan teologi. Namun, mengecapi buku karyanya, pembaca akan menimba ilmu linguistik yang amat kaya. "Eja, saya tidak menganggap hasil pengamatan ini sebagai sebuah karya linguistik yang ilmiah tetapi hanya sebuah korpus data yang moga-moga bisa digunakan ahli linguistik untuk meneliti dan menulis lebih lanjut mengenai bahasa yang indah ini," katanya kepada beta di Kupang dua pekan lalu. Beta tersanjung karena menerima UBI langsung dari tangan penulisnya sendiri. Dia datang jauh- jauh dari Dili, Timor Leste.

Kiranya tidak banyak anak Flobamora yang memilih kerja sunyi dan tidak populer semacam ini.  Selain Prisco Virgo beta ingat Yohanes Manhitu. Kalau beta tidak keliru, Yohanes Manhitu yang bermukim di Yogyakarta telah melahirkan kamus Bahasa Tetun-Indonesia, Indonesia-Tetun. Karya itu juga sudah diterjemahkannya ke dalam bahasa Inggris. Mau mengenal Yohanes, silakan klik http://ymanhitu.blogspot.com. 

Omong-omong soal bahasa ibu alias bahasa bawaan karena kelahiran, beta termasuk orang yang risau. Bahasa ibuku (mother-tongue) adalah bahasa Lio (Ende, Flores-NTT). Bahasa ibu dari istriku, bahasa Keo  (Nagekeo). Anak-anakku lahir di Kupang. Di rumah kami menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Kupang. Anakku masih kecil. Masih bisa dituntun. Tapi apakah mereka nanti mau belajar bahasa daerah Lio dan Keo?

Beta tak yakin seratus persen karena pengalaman menunjukkan hal itu sulit terwujud. Ada anak Manggarai tetapi belum tentu bisa berbahasa Manggarai. Ada anak Rote, Sabu atau Sumba yang sama sekali tak cakap berbahasa Rote, Sabu dan Sumba.

Meski data valid harus dibuktikan lewat penelitian ilmiah, beta bisa memastikan kecenderungan penutur bahasa daerah di NTT terus menurun jumlahnya dari tahun ke tahun. Bayangkan 50 sampai 100 tahun ke depan, tinggal berapa bahasa daerah yang masih hidup di kampung besar Flobamora? Kata peribahasa, bahasa menunjukkan bangsa. Bahasa hilang, bangsa punah. Gawat!

Dua tahun lalu  LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) merilis data miris. Sekitar 250 bahasa daerah di negeri ini di ambang kepunahan. Tergilas oleh nasionalisasi dan globalisasi bahasa-bahasa besar dunia. Fakta serupa sesungguhnya terjadi di beranda Flobamora. Coba tuan dan puan tanya diri, masih bisa cas cis cus dengan bahasa ibu?

Maka upaya sadar Prisco Virgo, Yohanes Manhitu atau siapa pun anak NTT yang peduli terhadap bahasa ibu, patutlah digugu dan ditiru. Toh hanya melalui buku, anak zaman ini mampu mewariskan nilai-nilai luhur  budaya bangsa bagi generasi berikut. Lewat buku atau kamus bahasa daerah, generasi yang lahir seribu tahun mendatang masih bisa belajar bahasa Laban, Tetun, Lio atau bahasa daerah lain di NTT. Kalau kita masih mengandalkan bahasa tutur, maka tinggal menghitung hari bahasa daerah Flobamora akan punah.

Masih untung kalau ada orang Belanda, Jerman, Australia atau Amerika Serikat yang mendokumentasikan bahasa ibu kita. Pertanyaannya berapa banyak yang mau dan mampu mereka kerjakan? Jalan terbaik setiap anak Flobamora mestinya mau mendokumentasikan dengan baik kekayaan bahasa ibu masing-masing. Bahasa menunjukkan bangsa. Bahasa ibumu sudah di ambang kepunahan. Tolong ko sadar e...! (dionbata@gmail.com)

Sumber: Beranda Kita Pos Kupang 4 Oktober 2010 hal 1.