Monday, March 8, 2010

TANAH BUAYA Oleh Prisco Virgo

Menurut para ahli bahasa, bentuk-bentuk kata paling sederhana yang dipakai oleh manusia purba ketika mulai mencoba berbicara adalah bentuk Interjeksi(seruan) dan Onomatope(tiruan bunyi). Dari segi bunyi, interjeksi dan onomatope terdengar seperti bahasa seorang anak bayi, tetapi interjeksi dan onomatope adalah bentuk-bentuk kata paling tua yang menjadi cikal-bakal setiap bahasa manusia di bumi ini. Entah bentuk-bentuk bunyi itu terdiri dari sebuah vokal tunggal, satu suku kata, kata atau sebuah nama, hal itu tidak jadi soal. Yang penting, bunyi seruan atau tiruan bunyi itu mewakili satu makna termengerti karena situasi tertentu yang menyebabkan seruan atau peniruan bunyi itu diujarkan dan akhirnya masuk ke dalam kumpulan kosa kata suatu bahasa. Interjeksi tanda setuju: [Ai], [Sim], [Ya], [Yes], [Yo], dan sebagainya. Interjeksi penyangkalan: [Heóng], [Iwa], [Kah], [Lae], [Nau], [No], [Tidak], [ora],dan seterusnya. Orang kesakitan: [A], ]Deh], [Duh]. Rasa heran: [Hah?], [Wah!], [Waw!] Rasa tidak senang: [Eh!], [Oh!], [Puih!] Undangan: [Come], [Êm], [Mai], [Mari], [Môlô]. Suruhan: [Ayo], [Nêô], [Please]. Mengenyahkan: [Hus!], [Ses!] Onomatope untuk burung hitam pemakan bangkai yang selalu mengeluarkan bunyi gak-gak: Gagak. Onomatope kucing: Meong. Onomatope burung hantu: Kukuk, Kuúk. Ayam jago: Kokorék, Kokoreó, Kukuruyu. Ayam betina: Kotek-Kotek. Dan masih ada [ao], [bekbek], [gukguk],[koa], [mbek], [teké], [toké], [tiri], [wekwek] dan sebagainya. Selain seruan dan tiruan bunyi yang masih aktif ini, sering kita kebingungan dan tidak memahami beberapa nama tempat, gunung, bukit, lembah dan sungai, yang tidak ada dalam kosa kata lasim yang dipakai dalam percakapan sehari-hari. Rupanya nama dan sebutan-sebutan itu bersal dari intejeksi dan onomatope bahasa-bahasa purba peninggalan manusia terdahulu, pencipta dan pemakai bahasa bersangkutan. Maka benar, hanya manusia tuan atas bahasa dan ketika mati, manusia tidak hanya meniggalkan nama, tetapi juga mewariskan bahasa. Tepat kata pepatah: Bahasa menunjukkan bangsa. Siapa pun atau bangsa mana pun di dunia, yang tidak menghargai bahasanya sendiri, akan kehilangan sebagian identitas dirinya. Sebab bahasa adalah produk kebudayaan dan kebudayaan adalah wadah utama pembentuk pola pikir dan pola laku manusia. Manusia berbudaya, manusia bermartabat. Dan salah satu pintu keluar bagi ekspresi kebudayaan dan martabat manusia adalah bahasa manusia, yang menyentuh langsung ‘darah’ dan ‘daging’ kehidupan. Bukan bahasa ‘malaikat’ yang tidak bisa dimengerti manusia dan hanya bisa dipahami oleh para arwah di langit ketujuh.

Ketika kompas atau alat penunjuk arah ditemukan, Christopher Columbus(CC) pergi ke benua Amerika yang dihuni oleh manusia pribumi berkulit merah dan secara keliru CC menyebut orang-orang ini, Indian(orang India) karena CC mengira ia telah berhasil tiba di anak benua India. Mateo Ricci dan Marco Pollo, menjelajahi dataran tinggi Mongolia dan mencatat bahwa wilayah itu dihuni oleh manusia berwarna kulit kuning. Keberhasilan para navigator ulung asal Spanyol dan Italia ini, menggemparkan Eropa. Apa lagi kepulangan para pengeliling perdana bola bumi ini, disertai laporan-laporan menggiurkan tentang kekayaan alam luar biasa yang dimiliki bangsa-bangsa kulit berwarna di dunia asing yang baru ditemukan itu. Maka dimulailah jaman penjelajahan samudra setelah itu. Kenang-kenangan yang dibawa pulang para penjelajah ini ke negeri asal mereka, bukan hanya nama besar dan kekayaan, tetapi juga catatan-catatan perjalanan yang kemudian dibukukan dan menjadi catatan sejarah. Ketika jaman penjelajahan berubah menjadi jaman penaklukan, pendudukan dan penjajahan atas bangsa-bangsa pribumi di luar Eropa, catatan-catatan perjalanan para penjelajah samudra itu menjadi referensi penanaman budaya penakluk di daerah taklukan. Maka meski keliru, sebutan Indian untuk pendududk pribumi Amerika oleh CC, tidak pernah berubah sampai hari ini. Pada hal penduduk asli benua Amerika jelas tidak sama dengan orang India yang ada di benua Asia. Ketika para penjelajah tiba di ujung Timur pulau yang dihuni oleh orang-orang Lamaholot, mereka mencatat nama tempat yang disinggahi itu capo de flora(tanjung bunga), para penjajah kemudian menamai seluruh pulau itu, Flores, pada hal sejak jama dulu pulau itu sudah memili nama asli Nusa Nipa(Tanah Ular). Sistim pemerintahan tradisional setempat dihapus, tradisi dan budaya pribumi ditekan.

No comments:

Post a Comment