Wednesday, August 17, 2011

SEBUAH KEPEDULIAN

UABLABAN
Oleh Dion Bata
Wartawan Senior Pos Kupang

"Oslan teabenat kiunnan baefnen
On nanat kaisam tokom, em hat nao ha taim kiu bafe'
Kiubaef'a nok unsam masi'at minna kah, masit islaut fin
Me han nes nanit, le' mitman kiubaefina sina `loemkina"
APA makna kalimat di atas?  Mohon maaf, beta pun tidak tahu. Soalnya bukan bahasa ibuku. Itu bahasa ibu Prisco Virgo, penutur asli bahasa daerah Timor yang baru saja meluncurkan buku berjudul UBI. Singkatan dari Uablaban Bahasa Ibuku. Edisi terbatas buku ini terbit bulan Agustus 2010.

Coba tuan dan puan simak sekali lagi empat kalimat di atas. Lihat kata yang dicetak tebal. Pada kalimat baris pertama ada kata kiunnan dan baefnen. Pada kalimat baris kedua, dua kata itu berubah jadi kiu bafe'. Pada kalimat baris ketiga, dua kata itu malah bersatu menjadi kiubaef'a. Dan, pada kalimat baris keempat, dua kata yang sama berubah lagi menjadi kiubaefina.

Tentu hanya seorang penutur asli (native speaker) bahasa ini yang dapat menikmati perbedaan nuansa serta nilai rasa bahasa dari perubahan keempat kata di atas serta arti yang  dikandung keempat bentuk perubahan itu. Tuan dan puan serta beta yang bukan penutur asli tidak merasakan perbedaan serta nilai rasa bahasa itu. Kecuali kalau mau serius belajar Uablaban, bahasa yang dipakai masyarakat bangsa Atônê (Atoni), bangsa yang berdiam di Pulau Timor bagian barat (NTT).                               

Empat kalimat di atas agaknya sengaja ditunjukkan Prisco Virgo dalam pengantar buku UBI demi memberi tahu sidang pembaca betapa bahasa ibunya itu kaya, unik sekaligus indah.  Keunikan itu antara lain tampak dari perubahan bentuk kata (morfemisasi). Selama ini kita mengenal  Kefamenanu, ibukota Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU). Menurut Prisco Virgo, tulisan yang benar sesuai nilai rasa bahasa Uablaban seharusnya Kefamnanu'. Melalui buku UBI, penulis bernama asli Fransiskus Xaverius Primus Uluk Djuki Ta'neo tegas memperlihatkan kecintaan dan keingintahuan yang besar akan bahasanya sendiri. 

Beta salut atas usaha misionaris SVD yang berkarya di Timor Leste tersebut. UBI adalah hasil kerja keras pria kelahiran Bansone',  Kefamnanu'  itu selama 20 tahun. Dia mengamati dan mengumpul kekayaan Uablaban sejak masih tercatat sebagai mahasiswa STFK St. Paulus Ledalero, Maumere-Flores tahun 1980-an. Luar biasa! 

Prisco Virgo tidak berlatar belakang studi linguistik. Ilmu dasarnya filsafat dan teologi. Namun, mengecapi buku karyanya, pembaca akan menimba ilmu linguistik yang amat kaya. "Eja, saya tidak menganggap hasil pengamatan ini sebagai sebuah karya linguistik yang ilmiah tetapi hanya sebuah korpus data yang moga-moga bisa digunakan ahli linguistik untuk meneliti dan menulis lebih lanjut mengenai bahasa yang indah ini," katanya kepada beta di Kupang dua pekan lalu. Beta tersanjung karena menerima UBI langsung dari tangan penulisnya sendiri. Dia datang jauh- jauh dari Dili, Timor Leste.

Kiranya tidak banyak anak Flobamora yang memilih kerja sunyi dan tidak populer semacam ini.  Selain Prisco Virgo beta ingat Yohanes Manhitu. Kalau beta tidak keliru, Yohanes Manhitu yang bermukim di Yogyakarta telah melahirkan kamus Bahasa Tetun-Indonesia, Indonesia-Tetun. Karya itu juga sudah diterjemahkannya ke dalam bahasa Inggris. Mau mengenal Yohanes, silakan klik http://ymanhitu.blogspot.com. 

Omong-omong soal bahasa ibu alias bahasa bawaan karena kelahiran, beta termasuk orang yang risau. Bahasa ibuku (mother-tongue) adalah bahasa Lio (Ende, Flores-NTT). Bahasa ibu dari istriku, bahasa Keo  (Nagekeo). Anak-anakku lahir di Kupang. Di rumah kami menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Kupang. Anakku masih kecil. Masih bisa dituntun. Tapi apakah mereka nanti mau belajar bahasa daerah Lio dan Keo?

Beta tak yakin seratus persen karena pengalaman menunjukkan hal itu sulit terwujud. Ada anak Manggarai tetapi belum tentu bisa berbahasa Manggarai. Ada anak Rote, Sabu atau Sumba yang sama sekali tak cakap berbahasa Rote, Sabu dan Sumba.

Meski data valid harus dibuktikan lewat penelitian ilmiah, beta bisa memastikan kecenderungan penutur bahasa daerah di NTT terus menurun jumlahnya dari tahun ke tahun. Bayangkan 50 sampai 100 tahun ke depan, tinggal berapa bahasa daerah yang masih hidup di kampung besar Flobamora? Kata peribahasa, bahasa menunjukkan bangsa. Bahasa hilang, bangsa punah. Gawat!

Dua tahun lalu  LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) merilis data miris. Sekitar 250 bahasa daerah di negeri ini di ambang kepunahan. Tergilas oleh nasionalisasi dan globalisasi bahasa-bahasa besar dunia. Fakta serupa sesungguhnya terjadi di beranda Flobamora. Coba tuan dan puan tanya diri, masih bisa cas cis cus dengan bahasa ibu?

Maka upaya sadar Prisco Virgo, Yohanes Manhitu atau siapa pun anak NTT yang peduli terhadap bahasa ibu, patutlah digugu dan ditiru. Toh hanya melalui buku, anak zaman ini mampu mewariskan nilai-nilai luhur  budaya bangsa bagi generasi berikut. Lewat buku atau kamus bahasa daerah, generasi yang lahir seribu tahun mendatang masih bisa belajar bahasa Laban, Tetun, Lio atau bahasa daerah lain di NTT. Kalau kita masih mengandalkan bahasa tutur, maka tinggal menghitung hari bahasa daerah Flobamora akan punah.

Masih untung kalau ada orang Belanda, Jerman, Australia atau Amerika Serikat yang mendokumentasikan bahasa ibu kita. Pertanyaannya berapa banyak yang mau dan mampu mereka kerjakan? Jalan terbaik setiap anak Flobamora mestinya mau mendokumentasikan dengan baik kekayaan bahasa ibu masing-masing. Bahasa menunjukkan bangsa. Bahasa ibumu sudah di ambang kepunahan. Tolong ko sadar e...! (dionbata@gmail.com)

Sumber: Beranda Kita Pos Kupang 4 Oktober 2010 hal 1.